adada
Website Resmi PPNI Kabupate Probolinggo
+6281252200636

Peran serta Perawat dalam TKHK 2023

Sinergi antara Tenaga Kesehatan Haji Kloter (TKHK) dengan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umroh (KBIHU) harus dibangun sejak awal edukasi kepada jemaah haji sejak masa tunggu. Kolaborasi antara pesan kesehatan dan edukasi ibadah haji diharapkan dapat mencapai tujuan haji sehat, mabrur dan berkah.

“Tenaga Kesehatan Haji Kloter (TKHI), setelah terpilih, dengan KBIHU bersama untuk memberikan pembinaan kepada jemaah haji

Pembinaan kesehatan menjadi hal yang esensial dalam penyelenggaraan kesehatan haji. Untuk dapat menjalankan ibadah haji dengan sempurna, jemaah haji sewajarnya beribadah dalam kondisi terbaik. Sehingga, edukasi terkait dengan faktor risiko kesehatan sudah harus disampaikan sejak awal.

“Jadi bukan hanya outcomenya saja (menjadi haji) tapi juga proses untuk mencapai ibadah haji juga harus dijelaskan”,.

jarak yang harus ditempuh untuk proses lontar jumrah dari pondokan sekitar 7 km (pulang pergi) ditempuh dengan berjalan kaki, dan dilakukan berulang. Sudah seharusnya dikomunikasikan kepada jemaah sejak awal, termasuk perlunya kesiapan fisik dan faktor risikonya.

Perlu adanya keseimbangan dalam pembinaan, pelayanan, dan perlindungan jemaah haji baik dari sisi agama maupun dari sisi kesehatan.  porsi pembinaan yang seimbang antara sisi agama dan kesehatan, kondisi kesehatan jemaah selama menjalankan Ibadah haji dapat tetap terjaga.

“Ada rambu-rambu yang jelas untuk kemampuan ibadah tiap-tiap jemaah” ujarnya.

Peran TKHK diharapkan tidak hanya memantau kondisi kesehatan dan memberikan pelayanan kesehatan pada jemaah di kloter. Melainkan juga memiliki fungsi untuk memberikan pertimbangan bagi jemaah, khususnya jemaah risiko tinggi untuk menjalankan ibadah sunnah, tambahnya.

Perlu adanya peran ekstra dari TKHK dalam pengawalan jemaah haji risti. Menjadi tantangan tersendiri, dimana KBIHU memiliki program yang bisa berbeda satu sama lain, yang terkadang tidak dikomunikasikan dengan petugas kesehatan, dan tidak sinkron dengan aturan yang sudah ditetapkan pemerintah.

“Misalnya kaya kemarin kita lempar jumroh, sudah ada aturan sore atau malam, diambil siang yang afdolnya, meski sudah di edukasi”

Demikian pula yang dialami oleh TKHK Kloter SUB 65, dr. maulida rahmani dia mengatakan bila saat ini cuaca sangat extrim sehingga jamaah harus panda mengatur waktu dan menjaga diri mengingat suhu saay ini berkisar antara 41 - 50 derajat. resiko jammah kepanansa, dan kelelahan serta dehidrasi menjadi faktor resiko yang perlu di perhatikan.